Kepada perempuan,
Mulailah menutup pintu untuk seseorang yang sering menyakiti, sekali pun masih ada sisa-sisa perasaan kepadanya.
Jawab,
Bagaimana bisa ia membuatmu bahagia, sedang karenanyalah kamu sering menangis? Bagaimana bisa ia setia, sedang ketulusunmu ia khianati? Sungguh bagaimana mungkin ia menjagamu, sedang hatimu pun ia patahkan.
Kepada perempuan,
Berilah kesempatan kepada laki-laki lain untuk memasuki hatimu ya; agar ia membantu merapikan hari-harimu yang sempat kacau oleh cerita di masa lalu.
Udah ah jangan lebay. Relakan yang telah pergi, sambut yang kelak datang. Ikhlaskan yang sudah hilang, temukan yang bisa menggantikan. Selesai.
Dan kepada perempuan,
Berhentilah menunggu seseorang yang tak pernah mau datang. Sudahilah pengharapan yang sia-sia ini. Di dunia ini waktumu singkat, masa mudamu sementara, dan usiamu akan terus bertambah.
Demi Allah,
Demi Allah bagaimana mungkin waktumu yang singkat ini, kau persingkat lagi dengan menanti seseorang yang tak mau memberi pasti. Came on, kamu tidak akan selamanya kayak gini, kan?
Apa kamu bilang, sulit melepasnya?
Hei, aku sering katakan kepadamu, kan? Bahwa melepaskan itu bukan tentang bisa atau tidak. Bukan soal gampang atau sulit. Melepaskan adalah soal pilihan. Dan setelah membaca tulisan ini, pastikan, kamu sudah memutuskan untuk memilih bahagia.
Tanpa dia.
"Kalau kamu bilang, 'Anak ini nanti butuh biaya kuliah, biaya menikah, maka kamu melihat anak ini sebagai problem, tapi lihatlah dia sebagai penerus sujudmu, penerus kebaikanmu, dan tabunganmu saat kelak kau sudah meninggal." "Saya memang berbeda dengan kebanyakan orang, bagi mereka: Anak kecil bisa kualat kalau melawan orang tua. Saya punya pendapat sebaliknya, orang tua bisa kualat kalau sembarangan kepada anak kecil. Sebagai orang alim, saya pertanggungjawabkan pendapat ini di depan Allah. Dan saya punya referensi banyak kitab soal ini. Sayang, pendapat seperti saya ini tidak populer di (negeri) ini..." "Jangan mengira bahwa anak nakal itu tidak ada hubungannya dengan orang tua, sangat berhubungan. Jika kalian ingin melihat dirimu, maka lihatlah anakmu." "Penting bagi orang tua untuk memberikan akses kebahagiaan yang patut anak dapatkan selama kebahagiaan itu tidak menyalahi aturan Islam. Apabila kita tinjau kembali, sejatinya tidak...
Komentar
Posting Komentar